Thursday, December 12, 2019

Sejarah Nasional


Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan Pertanyaan Dibaliknya

Kita mengenal hari Pendidikan Nasional – Hardiknas yang jatuh pada tanggal 2 Mei dan hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Adalah hari bersejarah yang kita peringati setiap tahunnya. Kalau kita lebih jeli dalam memahami sejarah Indonesia, maka kita akan menemui kejanggalan kenapa pemerintah menetapkan hari-hari tersebut.
Hardiknas yang diperingati setiap 2 Mei, kabarnya diambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara, pendiri Taman Siswo, 1922 M, yang pada awalnya merupakan perkumpulan Kebatinan Seloso Kliwon. Kalau ini benar, mengapa bukan hari lahir K.H Achmad Dahlan pendiri Persyarikatan Muhamadiyah, 18 November 1912 M, sepuluh tahun lebih awal berdirinya dari Taman Siswo, dan pengaruhnya jauh lebih luas di seluruh kota di Nusantara. Kita ketahui bahwa setiap kota di nusantara saat ini terdapat sekolah-sekolah dari perserikatan Muhamadiyah. Sedangkan di setiap kota di nusantara tidak kita temui sekolah-sekolah Taman Siswo. Dari sini bisa kita lihat yang paling berjasa dalam menumbuhkan Pendidikan di Indonesia dan yang paling pantas menyandang gelar Bapak Pendidikan Indonesia adalah K.H Achmad Dahlan.
Hari Kebangkitan Nasional pun yang jatuh pada 20 Mei diambil dari hari berdirinya Boedi Oetomo yang diketuai oleh Dr. Soetomo. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1928 dalam Kongres Boedi Oetomo. Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia, dan selama 20 tahun berdiri Boedi Oetomo adalah organisasi kesukuan yang menjunjung tinggi Djawanisme. (Ahmad. 2010.: xxi). Hal ini patut dipertanyakan, kenapa sebuah organisasi yang menentang persatuan Indonesia sangat dihargai sedemikian rupa, bahkan hari berdirinya dianggap sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Walaupun pada bukunya Kuasa Kata, Anderson sangat menyanjung tinggi sosok pendiri Budi Utomo, Soetomo sebagai seorang figur yang fenomenal dan sebagai figur teladan dari apa yang disebut maju, muda, dan sadar. (Anderson. 1990 : 508). Anderson seakan mendukung pergerakan Budi Utomo sebagai bibit awal babak baru perpolitikan Indonesia. Tapi Anderson lupa bahwa pada tahun 1905 di Surabaya (3 tahun lebih awal dari munculnya boedi Utomo), Haji Samanhoedi mendirikan syarikat yang nantinya akan menjadi Syarikat terbesar di Nusantara yaitu Syarikat Dagang Islam. Dengan tokoh fenomenalnya Haji Oemar Said Tjokro Aminoto, seorang proklamator ulung guru dari Proklamator Soekarno dan juga mujahid yang tidak gentar terhadap penjajah. Sepak terjang H.O.S Tjokro Aminoto saya rasa tidak akan kalah dibandingkan Soetomo pendiri Boedi Utomo. Bahkan partai bentukannya memberikan kontribusi nyata dalam membangun pondasi kemerdakan Indonesia.



Daftar Pustaka
Anderson, Benedict. 1990. Kuasa Kata. Yogyakarta : MataBangsa
Suryanegara, Ahmad Mansur, 2010. Api Sejarah I, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bandung : Salamadani
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2010. Api Sejarah II. Bandung : Salamadani

No comments:

Post a Comment