Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan Pertanyaan Dibaliknya
Kita mengenal hari
Pendidikan Nasional – Hardiknas yang jatuh pada tanggal 2 Mei dan hari
Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei. Adalah hari bersejarah
yang kita peringati setiap tahunnya. Kalau kita lebih jeli dalam memahami
sejarah Indonesia, maka kita akan menemui kejanggalan kenapa pemerintah
menetapkan hari-hari tersebut.
Hardiknas yang diperingati
setiap 2 Mei, kabarnya diambil dari hari lahir Ki Hadjar Dewantara, pendiri
Taman Siswo, 1922 M, yang pada awalnya merupakan perkumpulan Kebatinan Seloso
Kliwon. Kalau ini benar, mengapa bukan hari lahir K.H Achmad Dahlan pendiri
Persyarikatan Muhamadiyah, 18 November 1912 M, sepuluh tahun lebih awal berdirinya
dari Taman Siswo, dan
pengaruhnya jauh lebih luas di seluruh kota di Nusantara. Kita ketahui bahwa
setiap kota di nusantara saat ini terdapat sekolah-sekolah dari perserikatan
Muhamadiyah. Sedangkan di setiap kota di nusantara tidak kita temui sekolah-sekolah
Taman Siswo. Dari sini bisa kita lihat yang paling berjasa dalam menumbuhkan
Pendidikan di Indonesia dan yang paling pantas menyandang gelar Bapak
Pendidikan Indonesia adalah K.H Achmad Dahlan.
Hari Kebangkitan Nasional
pun yang jatuh pada 20 Mei diambil dari hari berdirinya Boedi Oetomo yang
diketuai oleh Dr. Soetomo. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1928 dalam Kongres
Boedi Oetomo. Boedi Oetomo menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia,
dan selama 20 tahun berdiri Boedi Oetomo adalah organisasi kesukuan yang
menjunjung tinggi Djawanisme. (Ahmad. 2010.: xxi). Hal ini patut dipertanyakan,
kenapa sebuah organisasi yang menentang persatuan Indonesia sangat dihargai
sedemikian rupa, bahkan hari berdirinya dianggap sebagai Hari Kebangkitan
Nasional.
Walaupun pada bukunya Kuasa
Kata, Anderson sangat menyanjung tinggi sosok pendiri Budi Utomo, Soetomo
sebagai seorang figur yang fenomenal dan sebagai figur teladan dari apa yang
disebut maju, muda, dan sadar. (Anderson. 1990 : 508). Anderson seakan
mendukung pergerakan Budi Utomo sebagai bibit awal babak baru perpolitikan
Indonesia. Tapi Anderson lupa bahwa pada tahun 1905 di Surabaya (3 tahun lebih
awal dari munculnya boedi Utomo), Haji Samanhoedi mendirikan syarikat yang
nantinya akan menjadi Syarikat terbesar di Nusantara yaitu Syarikat Dagang
Islam. Dengan tokoh fenomenalnya Haji Oemar Said Tjokro Aminoto, seorang proklamator
ulung guru dari Proklamator Soekarno dan juga mujahid yang tidak gentar
terhadap penjajah. Sepak terjang H.O.S Tjokro Aminoto saya rasa tidak akan
kalah dibandingkan Soetomo pendiri Boedi Utomo. Bahkan partai bentukannya
memberikan kontribusi nyata dalam membangun pondasi kemerdakan Indonesia.
Daftar Pustaka
Anderson,
Benedict. 1990. Kuasa Kata.
Yogyakarta : MataBangsa
Suryanegara,
Ahmad Mansur, 2010. Api Sejarah I,
Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam menegakkan Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Bandung : Salamadani
Suryanegara, Ahmad
Mansur. 2010. Api Sejarah II. Bandung
: Salamadani
No comments:
Post a Comment